Minggu, 17 November 2013

TOLERANSI MERUPAKAN WUJUD UNTUK DAPAT MEMAHAMI AKAN KESADARAN PLURALISME


Senin, 11 November 2013 pukul 10.20 WIB, Prof. DR. dr. H. Hadiman SH, Msc – Dosen Pasca Sarjana UI, PTIK memberikan materi kuliah tentang Toleransi Merupakan Wujud Pemahaman Kesadaran Pluralisme. Istilah pluralisme sudah menjadi wacana umum nasional kita, namun dalam masyarakat ada tanda-tanda bahwa orang memahami pluralisme hanya sepintas lalu, tanpa makna yang lebih mendalam, tidak berakar dalam ajaran kebenaran. Paham kemajemukan masyarakat atau pluralisme tidak hanya dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi harus disertai dengan sikap yang tulus untuk menerima kenyataan itu sebagai hal yang bernilai positif dan rahmat Tuhan kepada manusia. Karena hal itu akan memperkaya pertumbuhan budaya melalui interaksi yang dinamis dan pertukaran silang budaya yang beraneka ragam. Prinsip pluralisme sama juga persoalannya dengan prinsip toleransi. Ada banyak indikasi bahwa masyarakat hanya memahaminya secara sepintas lalu, sehingga toleransi menjadi seperti tidak lebih pada persoalan tata cara pergaulan yang ‘enak’ antara berbagai kelompok yang berbeda-beda. Padahal toleransi adalah persoalan prinsip, tidak sekedar prosedur. Ada 4 bagian, yaitu:

1  .      Bhinekka Tunggal Ika yang artinya walaupun berbeda tapi kita tetap satu.
2   .      Musyawarah
3  .      Menghargai
4   .  Gagal/tidak berlakunya relasi dan komunikasi (sama-sama ingin menyelesaikan masalah, sama-sama menginginkan kebaikan dan sama-sama orang Indonesia)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0C-T9BQSGlRfK-jGvKPgiLmuhORnYf2TLAUKX0tJWTmu5EHvSaVhaTR8q81sM189r2ry2DCcYA6P0tji5UAaPv0FYwWXlEigtOtJTVwDv4-unoh4f5aPEixzRo-X18p52cUB14PAGs1A/s1600/agmz.jpg
                   


Pluralisme adalah suatu perangkat untuk mendorong pengayaan budaya bangsa, maka budaya Indonesia atau ke-Indonesiaan tidak lain adalah hasil interaksi yang kaya dan dinamis antara pelaku budaya yang beraneka ragam itu dalam suatu yang efektif seperti diperankan oleh kota-kota besar di Indonesia. Jadi pluralisme tidak dapat dipahami dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama yang justru hanya menggambar fragmentasi bukan pluralisme. Sebagai fakultas dengan mahasiswa yang heterogen baik secara suku, agama, maupun ras, Fikom Untar memandang penting toleransi sebagai perwujudan dari pluralisme. Oleh karena itu, untuk menunjukkan komitmen tersebut siang ini tepatnya pada pukul 11 siang tadi Fikom Untar mendatangkan seorang dosen tamu. Dosen tamu yang akan mengisi kuliah umum yang bertempat di lantai 12 gedung utama Universitas Tarumanagara ini adalah Irjen Pol Prof. Dr. dr. H. Hadiman, SH, Msc. Tema yang dibawakan Beliau pada siang hari ini adalah “Toleransi Merupakan Wujud Pemahaman Kesadaran Pluralisme”. Kuliah umum ini bertujuan agar para mahasiswa Fikom Untar bisa mengenal lebih jauh mengenai apa itu pluralisme dan pentingnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di kampus.

Setelah menyajikan persoalan bangsa yang sudah disebutkan tadi, Beliau kemudian membahas lebih dalam mengenai pentingnya hidup bertoleransi. Beliau juga menjabarkan 13 Toleransi Beragama yang dapat menjamin keberagaman bangsa ini. Dalam menjabarkan ketigabelas poin ini, Beliau memberikan kutipan-kutipan ayat dari kitab suci berbagai agama di Indonesia yang semakin mempertegas pentingnya toleransi beragama.Pada kuliah umum kali ini, Beliau tidak hanya menyodorkan persoalan bangsa yang sedang kita hadapi. Di akhir kuliah, Beliau menjabarkan pula apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi serangkaian problem bangsa ini. Menurut Beliau, dalam menghadapi serangkaian problem bangsa ini termasuk di antaranya problem adanya konflik dalam pluralisme diperlukan pendidikan sejak usia dini tentang “National and Character Building”.

Ø  Harry Truman : “Politik, politik luhur adalah pelayanan public. Tak ada kehidupan atau pekerjaan tempat manusia menemukan peluang lebih
Ø  J. F. Kennedy : “Seseorang yang telah pada tataran nasional; Maka loyalitas pada kelompok harus sirna.”
Moral baik: mencintai orang lain dan melayani dengan ikhlas dan memberi dengan ikhlas Integritas baik: setiap ada kebenaran, mengajak orang berbuat baik dan melarang orang berbuat jahat

Dimana disini seorang pemimpin yang baik itu;
·         Tidak pernah berbohong
·         Membelah
·         Rela berkorban
·         Tidak sukar dihubungi
·         Menjadi contoh
·         Iman takwanya mantap
·         Tidak pernah mengambil se sen-pun haknya anak buah
·         Berani mengambil keputusan
·         Perilaku santun


Nah, untuk memupuk sikap toleran seperti ini, masyarakat Indonesia perlu untuk memperkukuh komitmennya terhadap pluralisme (agama). Meminjam konsepsi pluralisme Diana L. Eck—Pimpinan Pluralism Project, Harvard University—bahwa; Pertama, pluralisme adalah keterlibatan aktif (active angagement) di tengah keragaman dan perbedaan. Kedua, pluralisme lebih dari sekedar toleransi. Pluralisme merupakan upaya memahami yang lain melalui pemahaman yang konstruktif (constructive understanding). Ketiga, pluralisme bukanlah relativisme. Pluralisme adalah upaya menemukan komitmen bersama di antara pelbagai komitmen (encounter commitments).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar