TOLERANSI
MERUPAKAN WUJUD UNTUK DAPAT MEMAHAMI AKAN KESADARAN PLURALISME
![]() |
Senin, 11 November 2013
pukul 10.20 WIB, Prof. DR. dr. H. Hadiman SH, Msc – Dosen Pasca Sarjana UI,
PTIK memberikan materi kuliah tentang Toleransi Merupakan Wujud Pemahaman Kesadaran
Pluralisme. Istilah pluralisme sudah menjadi wacana umum nasional kita, namun
dalam masyarakat ada tanda-tanda bahwa orang memahami pluralisme hanya sepintas
lalu, tanpa makna yang lebih mendalam, tidak berakar dalam ajaran kebenaran.
Paham kemajemukan masyarakat atau pluralisme tidak hanya dengan sikap mengakui
dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi harus disertai dengan
sikap yang tulus untuk menerima kenyataan itu sebagai hal yang bernilai positif
dan rahmat Tuhan kepada manusia. Karena hal itu akan memperkaya pertumbuhan
budaya melalui interaksi yang dinamis dan pertukaran silang budaya yang
beraneka ragam. Prinsip pluralisme sama juga persoalannya dengan prinsip
toleransi. Ada banyak indikasi bahwa masyarakat hanya memahaminya secara
sepintas lalu, sehingga toleransi menjadi seperti tidak lebih pada persoalan
tata cara pergaulan yang ‘enak’ antara berbagai kelompok yang berbeda-beda.
Padahal toleransi adalah persoalan prinsip, tidak sekedar prosedur. Ada 4
bagian, yaitu:
1 .
Bhinekka Tunggal Ika yang artinya
walaupun berbeda tapi kita tetap satu.
2 .
Musyawarah
3 .
Menghargai
4 . Gagal/tidak berlakunya relasi dan
komunikasi (sama-sama ingin menyelesaikan masalah, sama-sama menginginkan
kebaikan dan sama-sama orang Indonesia)
Pluralisme adalah suatu
perangkat untuk mendorong pengayaan budaya bangsa, maka budaya Indonesia atau
ke-Indonesiaan tidak lain adalah hasil interaksi yang kaya dan dinamis antara
pelaku budaya yang beraneka ragam itu dalam suatu yang efektif seperti
diperankan oleh kota-kota besar di Indonesia. Jadi pluralisme tidak dapat
dipahami dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam,
terdiri dari berbagai suku dan agama yang justru hanya menggambar fragmentasi
bukan pluralisme. Sebagai fakultas dengan mahasiswa yang heterogen baik secara
suku, agama, maupun ras, Fikom Untar memandang penting toleransi sebagai
perwujudan dari pluralisme. Oleh karena itu, untuk menunjukkan komitmen
tersebut siang ini tepatnya pada pukul 11 siang tadi Fikom Untar mendatangkan
seorang dosen tamu. Dosen tamu yang akan mengisi kuliah umum yang bertempat di
lantai 12 gedung utama Universitas Tarumanagara ini adalah Irjen Pol Prof. Dr.
dr. H. Hadiman, SH, Msc. Tema yang dibawakan Beliau pada siang hari ini adalah “Toleransi
Merupakan Wujud Pemahaman Kesadaran Pluralisme”. Kuliah umum ini bertujuan
agar para mahasiswa Fikom Untar bisa mengenal lebih jauh mengenai apa itu
pluralisme dan pentingnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di
kampus.
![]() |
Setelah menyajikan
persoalan bangsa yang sudah disebutkan tadi, Beliau kemudian membahas lebih
dalam mengenai pentingnya hidup bertoleransi. Beliau juga menjabarkan 13
Toleransi Beragama yang dapat menjamin keberagaman bangsa ini. Dalam
menjabarkan ketigabelas poin ini, Beliau memberikan kutipan-kutipan ayat dari
kitab suci berbagai agama di Indonesia yang semakin mempertegas pentingnya
toleransi beragama.Pada kuliah umum kali ini, Beliau tidak hanya menyodorkan
persoalan bangsa yang sedang kita hadapi. Di akhir kuliah, Beliau menjabarkan
pula apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi serangkaian problem bangsa
ini. Menurut Beliau, dalam menghadapi serangkaian problem bangsa ini termasuk
di antaranya problem adanya konflik dalam pluralisme diperlukan pendidikan
sejak usia dini tentang “National
and Character Building”.
Ø Harry
Truman : “Politik, politik luhur adalah pelayanan public. Tak ada kehidupan atau
pekerjaan tempat manusia menemukan peluang lebih
Ø J.
F. Kennedy : “Seseorang yang telah pada tataran nasional; Maka loyalitas pada kelompok
harus sirna.”
Moral baik: mencintai
orang lain dan melayani dengan ikhlas dan memberi dengan ikhlas Integritas baik:
setiap ada kebenaran, mengajak orang berbuat baik dan melarang orang berbuat jahat
Dimana disini seorang pemimpin yang baik
itu;
·
Tidak pernah berbohong
·
Membelah
·
Rela berkorban
·
Tidak sukar dihubungi
·
Menjadi contoh
·
Iman takwanya mantap
·
Tidak pernah mengambil se sen-pun haknya
anak buah
·
Berani mengambil keputusan
·
Perilaku santun
Nah, untuk memupuk
sikap toleran seperti ini, masyarakat Indonesia perlu untuk memperkukuh
komitmennya terhadap pluralisme (agama). Meminjam konsepsi pluralisme Diana L.
Eck—Pimpinan Pluralism Project, Harvard University—bahwa; Pertama, pluralisme adalah
keterlibatan aktif (active
angagement) di tengah keragaman dan perbedaan. Kedua, pluralisme lebih dari
sekedar toleransi. Pluralisme merupakan upaya memahami yang lain melalui
pemahaman yang konstruktif (constructive
understanding). Ketiga,
pluralisme bukanlah relativisme. Pluralisme adalah upaya menemukan komitmen
bersama di antara pelbagai komitmen (encounter
commitments).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar