Minggu, 29 September 2013

Pengaruh Marketing Politik
www.tabloidnova.com

      Pada tanggal 23 September 2013 mata kuliah Kapita Selekta kedatangan dosen tamu yang bernama Sarah Santi Msi yang memberikan materi tentang Marketing Politik. Pengertian dari Marketing Politik itu sendiri adalah aplikasi prinsip2 dan prosedur marketing di dalam kampanye politik  individu2 maupun oleh organisasi politik (Newman, 1999).

   Marketing politik adalah tentang organisasi politik (seperti partai, parlemen, departemen2 pemerintahan) yang mengadopsi teknik (seperti riset pasar dan desain produk) dan konsep (seperti memuaskan permintaan para pemilih/voters) yang sejatinya digunakan dalam dunia bisnis untuk membantu mereka mencapai tujuan (seperti memenangkan pemilu atau memperoleh kursi legislatif
zonawarta dot blogspot dot com

             Marketing politik tidak hanya dilihat selama periode kampanye saja, melainkan   partai politik harus terus menerus memperhatikan, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
           Ada 2 jenis kampanye :
         Kampanye pemilu jangka pendek dan dilakukan menjelang Pemilu
         Kampanye politik  jangka panjang dan dilakukan secara terus menerus


 
politik dot kompasiana dot com


     Berikut adalah salah satu contoh marketing politik dana kampanye pilgub DKI Jakarta 2012 :      
1.    Foke – Nara :   Rp 62M
2.    Alex – Nono  :   Rp 24M
3.    Hidayat-  didik :  Rp 19 M
4.    Jokowi Ahok :     Rp 16M
5.    Faisal – Biem :    Rp 4M
6.    Hendarji – Riza :  Rp 3M


     Kesimpulannya adalah belanja iklan politik tahun 2008 sebesar Rp 2,2 T dibanding 2007 naik sebesar Rp 880M (66%). Dari data di atas, belanja iklan politik di surat kabar  Rp1,3T, diantaranya iklan caleg Rp  180 M. Selanjutnya adalah Dari data di atas, belanja iklan politik di surat kabar  Rp1,3T, diantaranya iklan caleg Rp  180M.

  Marketing politik bisa terjadi dikarenakan beberapa sebab antara lain :
1.    Demokrasi dan kapitalisme dunia
2.    Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi
3.    Media lokal dan global
4.    Internet dan demokrasi digital
5.    Meningkatnya pendidikan politik masyarakat
6.    Ketersediaan dan kemudahan akses informasi
7.    Semangat emansipasi
8.    Masyarakat global
 “Hingar bingar politik kontemporer” Firmanzah (2008). Marketing Politik: Antara Pemahanan dan Realitas. Jakarta
     
    Dalam Marketing Politik bisa terjadinya perbandingan yaitu disiplin ilmu dan Praktik pemasaran Berikut penjelasannya antara lain :

Politik           
 Disiplin Ilmu
Memusatkan perhatian pada keyakinan, prinsip2, ide2 dan perdebatan bagaimana seharusnya  dunia ini dijalankan.
Contoh:  NEOLIB : WTO – keran impor kedele – harga kedele, pengusaha tempe . Perdebatan: dampak pada petani kedele, pengusaha tempe dst

2.                            Praktik Poltik
              Relasi antar institusi, proses legislasi dan perumusan kebijakan publik. Termasuk juga              bagaimana memenangkan pemilu dan mempertahankan kekuasaan

             Marketing

1.    Disiplin
    Memusatkan perhatian pada bagaimana entitas bisnis berperilaku di dunia usaha dalam memperoleh keuntungan.

2.    Praktik Pemasaran
          Artinya, bagaimana organisasi dikelola untuk mencapai tujuan utama tsb yakni keuntungan. Terkait di sini adalah bicara tentang strategi komunikasi dan manajemen pemasaran


Kelas E Kelompok 4
1.    David  (915090018)
2.    Have Chandra (915090203)
3.    Yenie ( 915010028)
4.    Ramer Tamara (915100073)
5.    Chindy  Mercy    (915129201)
   


Jumat, 13 September 2013

Pengaruh Media Terhadap Perilaku Masyarakat

fikomuntar(dot)blogspot(dot)com

Senin, 9 September 2013 pukul 10.20 WIB, Dr. Eko Harry Susanto memberikan kuliah Kapita Selekta mengenai ekonomi politik media yang berfokus pada pengaruh media terhadap masyarakat. Bapak Eko bercerita banyak hal mengenai pengaruh media yang diawali oleh cerita mengenai Departemen Kehakiman AS yang bersikeras bahwa penyitaan rekaman telpon wartawan Associated Press ( AP ) yang dilakukan dalam penyelidikan kebocoran data intelijen hanyalah untuk melindungi warga AS. Kejadian tersebut menjadi polemik tersendiri bagi kebebasan pers dan kebebasan memperoleh informasi. Dalam masalah tersebut, pemerintah memberikan pernyataan bahwa mereka mendahulukan keamanan nasional ( Kompas, 16 Mei 2013 : 9 ).
utalkmarketing(dot)com

Jika diperhatikan, media massa mempunyai pengaruh kuat kepada audience dalam hal tertentu dan dalam relasi paternalistik. Namun, media massa tidak memiliki pengaruh berarti terhadap kelompok terdidik karena mereka selektif dalam menerima berbagai pengaruh yang disiarkan melalui media massa. Salah satunya adalah kesesuaian antara informasi yang didapatkan dengan kepentingan bisnis dan politik yang ia miliki.
asianews(dot)it

Ada pemuka pendapat yaitu Wright ( 1986 ) berpendapat bahwa opinion leaders adalah individu-individu yang memiliki kredibilitas tinggi sehingga dapat mempengaruhi orang-orang lain di sekitarnya perihal pengambilan keputusan dan pembentukan pendapat. Dalam metode komunikasi Two Step Flow, pemimpin memperoleh informasi dari media dan menyebarkan kepada khalayak sehingga khalayak akan mempercayai informasi tersebut dan bertindak sesuai dengan pendapat pemimpin. Dalam hal ini terbukti bahwa media massa dan pinion leader berpean besar dalam menyebarkan informasi yang sarat akan informasi baik mengenai ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain-lain.
kaskus(dot)co(dot)id

Media massa lain seperti koran dan majalah, memiliki banyak pengaruh bagi budaya masyarakat. Berita yang kita baca di media cetak akan menciptakan persepsi kita akan suatu hal. Misalnya artikel pada  Majalah Tempo 13Mei 2013 mengenai Wiji Thukul sangat menggambarkan betapa besar pengaruh media massa. Berikut kutipannya :
Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton. Istriku kaget.  sebab seorang letnan jendral menyeret – nyeret namaku. Dengan tergopoh – gopoh selimutku ditarik – tariknya, Dengan mata masih lengket aku bertanya: menagapa? Hanya beberapa patah kata ke luar dari mulutnya: “Namamu di televisi.....” Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis. Aku tidur lagi dan ketika bangun wajah jenderal itu sudah lenyap dari televis. Karena acara sudah diganti. Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju. Celananya tidak. Aku memang  lebih sering ganti baju ketimbang celana. Setelah menjemur handuk aku ke dapur. Seperti biasa mertuaku yang  setahun lalu ditinggal mati suaminya itu, telah meletakkan  gelas berisi teh manis. Seperti biasanya ia meletakkan di sudut  meja kayu panjang itu, dalam  posisi yang gampang diambil. Istriku sudah mandi pula. Ketika berpapasan denganku kembali kalimat itu meluncur.  Namamu di televisi....”ternyata istriku jauh lebih cepat mengendus bagiamana kekejaman kemanusiaan itu daripada aku.”
Sudah terlihat jelas bahwa media memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat tertentu tentunya tidak terhindar dari sorotan media sehingga kisah yang disorot media massa akan menyebar pada masyarakat.
 
acmmunicationblog(dot)wordpress(dot)com

Teori Penggunaan Media dan Gratifikasi dari Lichtenstein dan Rosenfeld menjelaskan adanya keputusan yang dibuat mengunakan saluran-saluran komunikasi massa yang merupakan suatu proses dari dua bagian, yaitu motivasi dari apa yang dapat dipuaskan setiap medium dan berdasarkan informasi yang kita miliki bersama tersebut, masing-masing dari kita membuat pilihan perseorangan.

Kelas E kelompok 4 :
Have Chandra ( 915090203 )
David ( 915090018 )
Ramer Tamara ( 915100028 )
Yenie ( 915100072 )
Chindy Mercy ( 915129201 )

Sabtu, 07 September 2013

Memahami Media Massa dari Kacamata Ekonomi dan Politik

3(dot)bp(dot)blogspot(dot)com - diunduh pada 7 September 2013
Senin, 2 September 2013 pukul 10.20 WIB, Dr.Eko Harry Susanto memberikan kuliah bertemakan “Ekonomi Politik Media”. Media massa merupakan pilar keempat sekaligus menjadi watch dog untuk pemerintah. Sehingga tujuan dibentuknya media massa yakni mempublikasikan berbagai informasi yang menyangkut kepentingan rakyat.
4(dot)bp(dot)blogspot(dot)com - diunduh pada 7 September 2013
Agar konten media massa jernih tanpa ada pengaruh dari seseorang atau satu kelompok, diperlukan demokrasi dalam pers. Namun seiring perkembangan zaman, kini ruang publik sebagai ruang demokratis  media sudah mulai tenggelam. Hal ini terlihat ketika rasionalitas birokrasi atau modal mulai mengambil alih dan mendominasi fungsi, sistem kerja dan orientasi produksi media (Agus Sudibyo, 2009 : XIX).  Hal ini membuat gerak-gerik pers diatur sesuai keinginan penguasa media terutama untuk mendongkrak keuntungan dari segi ekonomi.
i1006(dot)potobucket(dot)com - diunduh 7 September 2013
Media idealnya memiliki fungsi sebagai sarana edukasi, hiburan, dan sumber informasi, tetapi pada prakteknya, program acara yang disajikan lebih mengutamakan hiburan dibanding fungsi lainnya. Sebab khalayak cenderung tertarik dengan informasi yang ringan daripada berita seperti sinetron. Saat program acara mendapat rating tinggi, banyak pengiklan berdatangan untuk mempromosikan produk atau jasanya. Peluang bisnis menjanjikan tersebut kerap kali dimanfaatkan oleh pemilik media demi meraup laba sebanyak-banyaknya, tanpa peduli kualitas dari isi media. Seharusnya konten media seimbang antara sumber informasi yang mendidik dengan hiburan.
image2(dot)tempointeraktif(dot)com - diunduh pada 7 September 2013
Selain berpengaruh pada aspek ekonomi, politik turut mewarnai isi media. Mengapa demikian? Berdasarkan profesi para pemilik media yang sebagian besar berkecimpung di dunia politik, butuh suatu jaringan komunikasi dalam memperkenalkan partai sekaligus dirinya ke masyarakat luas. Sehingga dipilihlah media massa sebagai alat komunikasi efektif juga efisien untuk merangkul khalayak, dan media massa juga dapat menjadi sarana propaganda.
Pemberitaan bersifat netral akan sulit dipublikasikan oleh pers karena adanya kekuatan dari pemegang media. Ditambah lagi terjadinya konglomerasi media di Indonesia, yang membuat peran jurnalistik bersih semakin minim dalam menggali serta menyebarkan informasi. Program-program acara hiburan dengan budaya berbeda ikut ambil bagian dalam kekacuan isi media massa saat ini, tak heran jika penerus bangsa meniru gaya hidup dan pola pikir bangsa lain bahkan lebih mencintai negeri asing. Padahal media massa merupakan cermin masyarakat, yang bertugas menghidupkan budaya negara kepulauan ini.
adearmando(dot)files(dot)wordpress(dot)com - diunduh pada 7 September 2013
Setelah penjelasan mengenai kebobrokan isi media, Bapak Eko selaku dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara melanjutkan penjelasan mengenai berbagai masalah yang terjadi dalam media. Masalah di media ada tiga, yang pertama adalah orientasi bisnis atau motif keuangan, media massa memiliki orientasi keuntungan  yang dikehendaki oleh perusahaan untuk menjalankan roda organisasi. Sehingga profit diutamakan dibanding kepentingan publik. Masalah keuangan bukan hanya pada institusi tetapi juga jurnalis yang bekerja sampingan menjadi wartawan amplop. Kegiatan seperti itu biasanya dilakukan oleh suatu lembaga atau tokoh masyarakat yang meminta kepada wartawan amplop untuk tidak disorot ataupun sebaliknya demi kepentingan pribadi dengan memberikan sejumlah uang.
Kedua, profesionalisme jurnalis dan institusi, seharusnya lembaga media tidak mengatur konten dari media itu sendiri dan lebih menyerahkan hak kepada jurnalis saat mempublikasikan informasi. Pengambilan keputusan menjadi pro kontra antara demokratis (menjalani pekerjaan jurnalis) dengan otoriter (isi sesuai keinginan pemilik media).
Ketiga, tidak independen dan transparan, pers cenderung mengikuti aturan institusi jadi ketika berita yang disampaikan bukan fakta sebenarnya atau tidak bersikap netral. Contoh, ANTv maupun TvOne menghindari pemberitaan negatif tentang kasus lumpur Sidoarjo dan mempublikasikan dampak positif dari lumpur Sidoarjo.
Penjelasan dari Dr. Eko makin kuat dengan pernyataan dari Denis McQuail yakni :
  • Teori Media Politik Ekonomi adalah ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi.
  • Media bagian dari sistem  ekonomi yang bertalian erat dengan sistem politik.
Keterpurukan isi media tidak akan terjadi jika intitusi media mengikuti UU No.40/1999 tentang pers, yang berbunyi perusahaan pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.

Kelas E kelompok 4 :
Have Chandra ( 915090203 )
David ( 915090018 )
Ramer Tamara ( 915100028 )
Yenie ( 915100072 )
Chindy Mercy ( 915129201 )