![]() |
| 3(dot)bp(dot)blogspot(dot)com - diunduh pada 7 September 2013 |
Senin, 2 September 2013 pukul 10.20 WIB, Dr.Eko Harry
Susanto memberikan kuliah bertemakan “Ekonomi Politik Media”. Media massa
merupakan pilar keempat sekaligus menjadi watch
dog untuk pemerintah. Sehingga tujuan dibentuknya media massa yakni mempublikasikan
berbagai informasi yang menyangkut kepentingan rakyat.
![]() |
| 4(dot)bp(dot)blogspot(dot)com - diunduh pada 7 September 2013 |
Agar konten media massa jernih tanpa ada pengaruh dari
seseorang atau satu kelompok, diperlukan demokrasi dalam pers. Namun seiring
perkembangan zaman, kini ruang publik sebagai ruang demokratis
media sudah mulai tenggelam. Hal ini terlihat ketika rasionalitas
birokrasi atau modal mulai mengambil alih dan mendominasi fungsi, sistem
kerja dan orientasi produksi media (Agus Sudibyo, 2009 : XIX). Hal ini membuat gerak-gerik pers diatur sesuai
keinginan penguasa media terutama untuk mendongkrak keuntungan dari segi
ekonomi.
![]() |
| i1006(dot)potobucket(dot)com - diunduh 7 September 2013 |
Media idealnya memiliki fungsi sebagai sarana edukasi, hiburan, dan
sumber informasi, tetapi pada prakteknya, program acara yang disajikan lebih
mengutamakan hiburan dibanding fungsi lainnya. Sebab khalayak cenderung
tertarik dengan informasi yang ringan daripada berita seperti sinetron. Saat
program acara mendapat rating tinggi, banyak pengiklan berdatangan untuk
mempromosikan produk atau jasanya. Peluang bisnis menjanjikan tersebut kerap
kali dimanfaatkan oleh pemilik media demi meraup laba sebanyak-banyaknya, tanpa
peduli kualitas dari isi media. Seharusnya konten media seimbang antara sumber
informasi yang mendidik dengan hiburan.
![]() |
| image2(dot)tempointeraktif(dot)com - diunduh pada 7 September 2013 |
Selain berpengaruh pada aspek ekonomi, politik turut
mewarnai isi media. Mengapa demikian? Berdasarkan profesi para pemilik media yang
sebagian besar berkecimpung di dunia politik, butuh suatu jaringan komunikasi
dalam memperkenalkan partai sekaligus dirinya ke masyarakat luas. Sehingga
dipilihlah media massa sebagai alat komunikasi efektif juga efisien untuk
merangkul khalayak, dan media massa juga dapat menjadi sarana propaganda.
Pemberitaan bersifat netral akan sulit dipublikasikan
oleh pers karena adanya kekuatan dari pemegang media. Ditambah lagi terjadinya
konglomerasi media di Indonesia, yang membuat peran jurnalistik bersih semakin minim dalam menggali
serta menyebarkan informasi. Program-program acara hiburan dengan budaya
berbeda ikut ambil bagian dalam kekacuan isi media massa saat ini, tak heran
jika penerus bangsa meniru gaya hidup dan pola pikir bangsa lain bahkan lebih
mencintai negeri asing. Padahal media massa merupakan cermin masyarakat, yang
bertugas menghidupkan budaya negara kepulauan ini.
![]() |
| adearmando(dot)files(dot)wordpress(dot)com - diunduh pada 7 September 2013 |
Setelah penjelasan mengenai kebobrokan isi media,
Bapak Eko selaku dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas
Tarumanagara
melanjutkan penjelasan mengenai berbagai masalah yang terjadi dalam media.
Masalah di media ada tiga, yang pertama adalah orientasi bisnis atau motif keuangan, media massa
memiliki orientasi keuntungan yang
dikehendaki oleh perusahaan untuk menjalankan roda organisasi. Sehingga profit diutamakan dibanding kepentingan
publik. Masalah keuangan bukan hanya pada institusi tetapi juga jurnalis yang
bekerja sampingan menjadi wartawan amplop. Kegiatan seperti itu biasanya dilakukan oleh suatu lembaga
atau tokoh masyarakat yang meminta kepada wartawan amplop untuk tidak disorot
ataupun sebaliknya demi kepentingan pribadi dengan memberikan sejumlah uang.
Kedua, profesionalisme jurnalis dan institusi,
seharusnya lembaga media tidak mengatur konten dari media itu sendiri dan lebih
menyerahkan hak kepada jurnalis saat mempublikasikan informasi. Pengambilan
keputusan menjadi pro kontra antara demokratis (menjalani pekerjaan jurnalis)
dengan otoriter (isi sesuai keinginan pemilik media).
Ketiga, tidak independen dan transparan, pers
cenderung mengikuti aturan institusi jadi ketika berita yang disampaikan bukan
fakta sebenarnya atau tidak bersikap netral. Contoh, ANTv maupun TvOne menghindari pemberitaan
negatif tentang kasus lumpur Sidoarjo dan mempublikasikan dampak positif dari
lumpur Sidoarjo.
Penjelasan dari
Dr. Eko makin kuat dengan pernyataan dari Denis McQuail yakni :
- Teori
Media Politik Ekonomi adalah ketergantungan ideologi pada kekuatan
ekonomi.
- Media
bagian dari sistem ekonomi yang
bertalian erat dengan sistem politik.
Keterpurukan isi media tidak akan terjadi jika
intitusi media mengikuti UU No.40/1999 tentang pers, yang berbunyi perusahaan pers
memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau laba
bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.
Kelas E kelompok 4 :
Have Chandra ( 915090203 )
David ( 915090018 )
Ramer Tamara ( 915100028 )
Yenie ( 915100072 )
Yenie ( 915100072 )
Chindy Mercy ( 915129201 )





Tidak ada komentar:
Posting Komentar