IKLAN
DAN KEKERASAN SIMBOLIK
![]() |
| https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-prn1/c36.36.445.445/s160x160/931275_10151599011119484_1212184134_n.jpg |
Pada tanggal 2 desember
2013 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara Kedatangan dosen tamu
untuk mengisi kuliah Kapita Selekta. Beliau bernama ibu Endah Muwarni yang
memberikan materi tentang “Iklan dan kekerasan Simbolik”
Iklan ada dimana-mana,
seakan mengikuti kemana saja kita pergi sepanjang hari. Di rumah, jalanan,
pasar, kantor, kampus, sekolah, stasiun, halte bus, bandara, taksi, lift maupun
toilet kita selalu bertemu iklan.Iklan telah mengepung kita dari berbagai
penjuru dan sepanjang waktu, sehingga memungkinkan untuk mampu menembus hampir
semua celah kehidupan setiap orang. Pengiklan seolah tidak akan melewatkan
sejengkal tempat dan waktu untuk beriklan.
Iklan tidak hanya sekedar bertujuan
menawarkan dan mempengaruhi calon konsumen untuk membeli suatu produk. Akan
tetapi lebih dari itu, iklan turut berpengaruh dalam membentuk sistem nilai,
gaya hidup maupun selera budaya tertentu
Iklan
tidak hanya memvisualisasikan kualitas dan atribut dari produk yang harus
dijualnya, tetapi mencoba membuat bagaimana sifat atau ciri produk tersebut
mempunyai artisesuatu bagi kita
![]() |
| http://1.bp.blogspot.com/-8WgLBQbKh5Q/UHmrb9JOA6I/AAAAAAAAAE4/LRPqyiV-6n0/s1600/kapsel1a.jpg |
Dalam konteks inilah iklan mendefinisikan
image tentang ‘arti tertentu yang diperoleh’ ketika orang menggunakan
produk tersebut
Proses
ini oleh Williamson (1978 : 20) disebut sebagai using product is currency,
yaitu menggunakan produk yang diiklankan sebagai ‘uang’ untuk membeli produk
kedua yang secara langsung tidak terbeli.
Pollay membagi
fungsi komunikasi iklan menjadi dua
1.
Fungsi
informasional, iklan memberitahukan kepada konsumen tentang karakteristik
produk.
2.
Fungsi
transformational, iklan berusaha untuk mengubah sikap-sikap yang dimiliki oleh
konsumen terhadap merek, pola-pola belanja, gaya hidup, teknik-teknik mencapai
sukses dan sebagainya.
Baudrillard : iklan adalah bentuk dari
sign systemyang mengatur makna dari obyek atau komoditas. Iklan juga
dipandang sebagai perangkat ideologis dari kapitalisme konsumen (consumer
capitalism)
Barthes
: iklan juga dilihat sebagai signs, yang mengatur makna yang ingin
disampaikan oleh pembuat iklan. Makna ideologis yang dimiliki iklan dibuat
senetral mungkin, proses signifikasi (pembuatan tanda/sign) yang
kemudian disebut Barthes sebagai myth
Proses
penanaman nilai melalui iklan dapat membentuk habitus tentang sistem nilai
tersebut. Sehingga iklan tidak hanya menciptakan subjek yang dapat meregulasi
diri terkait konsumsi produk namun juga subjek yang dapat meregulasi diri
terkait klasifikasi dunia sosial, disini kemudian terjadilah kekerasan
simbolik.
image-image
yang diproduksi iklan
adalah tindakan pedagogis yang dapat memaksakan secara halus nilai-nilai,
standar-standar dan selera kebudayaan kepada masyarakat atau sekurang-kurangnya
memantapkan preferensi kebudayaan mereka sebagai standar dari apa yang dianggap
tertinggi, terbaik dan paling absah. Dominasi kelas terjadi tatkala
pengetahuan, gaya hidup, selera, penilaian estetika dan tata cara sosial dari
kelas yang dominan menjadi absah dan dominan secara sosial
Nama Kelompok 4
1. David 915090018
2. Have Chandra 915090203
3. Yenie 915100073
4. Ramer Tamara 915100073
5. Chindy Mercy 915129201
1. David 915090018
2. Have Chandra 915090203
3. Yenie 915100073
4. Ramer Tamara 915100073
5. Chindy Mercy 915129201




Tidak ada komentar:
Posting Komentar